Jangan Nafkahi Keluarga dari Uang Judi Slot, Ini Hukumnya dalam Islam – detikHikmah

Dilansir dalam detikFinance, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) berdasarkan Laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), memaparkan total transaksi judi online di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 200 triliun. Sementara kerugian dari judi online ditaksir mencapai 27 triliun per tahun.
Total perputaran uang untuk judi online tersebut berdasarkan catatan PPATK pada periode 2017-2022. Perputaran itu melibatkan 887 jaringan bandar judi online.
Dalam dunia maya, terdapat banyak aplikasi judi slot yang menggoda sebagian orang dengan potensi keuntungan besar dari praktik perjudian online ini. Namun, jika seseorang benar-benar memperoleh hasil atau keuntungan dari perjudian slot dan ingin menggunakannya untuk menafkahi keluarga, berikut adalah penjelasan hukumnya menurut Islam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam Islam, perjudian adalah tindakan yang dilarang dan diharamkan. Penjelasan mengenai larangan berjudi berdasarkan firman Allah SWT dalam surah Al-Maidah ayat 90:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Bacaan latin: Ya ayyuhalladzina amanu innamal khamru walmaisiru walansobu wal-azlamu rijsummin ‘amalisy-syaitani fajtanibuhu la’allakum tuflihun
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, perjudian, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan tersebut agar kalian beruntung.”
Mengutip laman Kemenag, Abu Al Muzhaffar As-Sam’ani, dalam Tafsir as-Sam’ani, [Riyadh, Darul Wathan, 1997], jilid I, halaman 61, menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk menggambarkan praktik perjudian yang dilakukan oleh orang-orang Arab pada masa lalu. Praktik perjudian tersebut melibatkan penggunaan kambing sebagai sarana perjudian.
Orang-orang akan membeli kambing dan kemudian menyembelihnya. Selanjutnya, daging kambing tersebut akan dipecah menjadi 28 bagian.
Selanjutnya, bagian-bagian daging kambing yang berjumlah 28 ini akan digunakan sebagai taruhan. Para peserta akan bertaruh pada bagian daging kambing yang mereka pilih. Bagian daging kambing yang berhasil memenangkan taruhan akan menjadi milik orang yang bertaruh pada bagian tersebut.
Namun, permainan judi semacam ini dianggap sebagai perbuatan haram dalam Islam. Hal ini disebabkan karena perjudian masuk dalam kategori gharar, yaitu transaksi yang melibatkan unsur ketidakpastian. Abu Muzhaffar menjelaskan;
“Asma’i berkata: Perjudian mereka melibatkan seekor hewan ternak, di mana mereka membeli hewan ternak dan menyembelihnya, kemudian membaginya menjadi 28 bagian.”
Mengenai hukum seseorang istri, anak, dan anggota keluarga lainnya yang mengonsumsi makanan yang diperoleh dari hasil judi yang diberikan oleh suami atau ayahnya, KH. M. Sjafi’i Hadzami, dalam bukunya yang berjudul “100 Masalah Agama,” jilid 3, halaman 286, menjelaskan bahwa jika mereka mengetahui bahwa makanan yang dikonsumsi berasal dari sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan Rasulullah, maka tindakan tersebut wajib ditinggalkan, yang berarti makanan tersebut sebaiknya tidak dikonsumsi.
Hal ini disebabkan karena jika sesuatu yang diharamkan dan diketahui berasal dari sumber yang haram dikonsumsi, maka di akhirat seseorang akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya. Syekh Zainuddin al-Malibary dalam kitab “Fathu al-Mu’in,” halaman 67, menjelaskan bahwa jika seseorang dengan jelas mengetahui bahwa sesuatu itu berasal dari sumber yang haram, maka di akhirat, individu tersebut akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.
“Faidah: Apabila seseorang menerima sesuatu dari orang lain dengan cara yang sah, tetapi ia meyakini bahwa itu halal, padahal dalam hatinya ia tahu itu haram, maka jika orang yang memberikannya kelihatan baik, maka ia tidak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Tetapi jika tidak, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Hal ini dikemukakan oleh Imam Al-Baghawi.
Pandangan yang sejalan juga diungkapkan oleh Imam Nawawi dalam kitab “Raudhatut Thalibin,” jilid 7 halaman 337, yang menyatakan bahwa jika seseorang diundang untuk makan, dan ia mengetahui bahwa makanan yang disajikan dalam undangan tersebut haram, maka menjadi haram baginya untuk menerima undangan tersebut. Hal ini disebabkan karena mengonsumsi makanan yang haram dianggap sebagai perbuatan dosa.
“Seorang muslim yang diundang oleh seseorang yang sebagian besar hartanya bersumber dari yang haram, maka sebaiknya ia menghindari untuk memenuhi undangan tersebut, s seperti juga sebaiknya dia menghindari bertransaksi dengan orang tersebut. Jika ia mengetahui bahwa makanan yang disajikan adalah haram, maka haram baginya untuk menghadiri undangan tersebut.”
Oleh karena itu, jika seseorang mengetahui bahwa makanan yang disantap berasal dari hasil perjudian slot yang dilarang oleh agama dan negara, maka seharusnya anggota keluarga tidak mengonsumsinya. Kecuali dalam situasi darurat, seperti ketika menghindari bahaya serius atau kerusakan yang dapat mengancam keselamatan, dalam kondisi tersebut diperbolehkan mengonsumsi makanan tersebut semata-mata untuk bertahan hidup.
Seperti yang dinyatakan dalam firman Allah SWT dalam surah Al-Maidah ayat 3:
… فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “… Maka, bagi siapa yang terpaksa karena kelaparan, bukan karena keinginan berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Selanjutnya, menurut pandangan KH. M. Sjafi’i Hadzami, jika ada seorang anak yang masih di bawah umur (yang belum mampu untuk mencari nafkah sendiri), yang artinya ketergantungan hidupnya pada nafkah yang diberikan oleh ayah dan ibunya, maka dalam situasi seperti itu, anak-anak tersebut dibebaskan dari dosa dan diperbolehkan karena mereka belum diwajibkan taat hukum syariat.
Namun, jika seorang anak atau istri mengetahui bahwa ayah atau suaminya berjudi slot, sebaiknya selalu diingatkan bahwa hukum memberi nafkah kepada keluarga dengan uang hasil judi adalah haram. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 188 yang menyatakan:
وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan cara yang tidak benar dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud untuk memperoleh sebagian harta milik orang lain dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”
Dengan demikian, memberi nafkah kepada keluarga dengan uang yang berasal dari sumber yang haram akan menghasilkan konsekuensi negatif, baik bagi yang memberi nafkah maupun yang menerima nafkah. Bagi yang memberi nafkah, tindakannya akan menimbulkan dosa dan memicu kemurkaan Allah SWT. Sedangkan bagi yang menerima nafkah, mereka akan menerima harta yang haram dan terbiasa dengan hal-hal yang haram.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ghazali dalam kitab “Bidayatul al-Hidayah,” [Kairo: Maktabah Madbuly, 1993], halaman 56:
“Adapun perutmu, jagalah untuk tidak mengkonsumsi makanan yang haram dan syubhat, dan berusahalah untuk mencari makanan yang halal. Jika kamu menemukannya, maka pastikan untuk tidak berlebihan dalam makan hingga kekenyangan. Karena perut yang kenyang dapat membuat hati keras, merusak pikiran, menghambat kemampuan belajar dan beribadah, memperkuat hawa nafsu, dan memberikan bantuan kepada pasukan setan. Kenyang dari makanan yang halal adalah akar dari banyak keburukan. Lantas bagaimana dengan yang haram? Mencari makanan yang halal adalah kewajiban setiap Muslim, dan beribadah dengan memakan yang haram ibarat membangun di atas pasir.

source


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *